Dewasa ini, tradisi berpelukan banyak sekali dibahas pada postingan-postingan sosial media seperti facebook tweeter, instagram maupun whatsapp. Dipaparkan bahwa tradisi berpelukan yang telanjur dianggap lebay dan terkesan kaku itu mampu memberi energi kerekatan hubungan yang selalu terbarukan. Baik untuk pasangan, anak-anak dan teman. Lalu apakah hanya berpelukan?
Selain berpelukan, kekuatan yang ada dalam diri manusia adalah air mata. Kedua hal ini mampu menyalakan karakter kamanungsan yang semakin kesini semakin menghilang. Dengan berpelukan keberadaan manusia terakui dan berarti. Begitu pula dengan air mata. Mengapa air mata? Ya, selain untuk membasahi bola mata ahgar tak kering, air alami tubuh manusia ini terbukti sebagai reaksi emosional baik emosi positif (menangis bahagia) ataupun emosi negatif (amarah, sakit, terluka) yang keduanya berada dalam alam rasa. Bisa disimpulkan bahwa ungkapan rasa bisa terbahasakan dengan air mata.
Yang ketiga adalah bercerita, berbagi cerita. Dengan berbagi cerita, berbicara dengan sesama. Terbukti mampu membuat diri menjadi lega, lapang dan kosong kembali dari emosi-emosi negatif. Selain menjadi lega, kegiatan bercerita ini mampu memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan ataupun ikatan hubungan menjadi semakin erat. Hati akan udah lapang kembali untuk menghadapi hal-hal baru selanjutnya.
Dari ketiga hal yang terurai diatas, semuanya lekat dengan jiwa para perempuan. Perempuan mampu melewati hal buruk dalam hidupnya jika ada ketiga hal diatas. Berpelukan, menagis, dan bercerita. Perempuan mampu mengisi daya kekuatan dan semangatnya setelah ia meangis, diberikan pelukan maupun dengan megutarakannya.
Lalu bagaimanakah dengan laki-laki?