Jumat, 26 April 2019

AKU DAN KATA-KATA

Sebenarnya waktu aku duduk di bangku SMP sudah suka sekali menulis. Bukan artikel ataupun berita apalagi puisi, hanya menulis apa yang sedang aku rasakan saja. Semacam buku diary gitu.
Bahkan aku ingat waktu itu punya kode-kode kalimat agar catatan harianku tidak mudah dibaca orang lain. Aselinya takut dibaca Bapak dan Emak. wkwkwkwk

Aku termasuk remaja yang tidak bisa terlalu dekat sama teman dan apalagi bisa cerita apapun dan tentang apapun sama teman-teman. Ya.. cenderung pendiam dan penyembuyi perasaan (cieh..)
Mulai dari dunia sekolah dan cerita-cerita remaja yang mulai mengenal rasa suka lawan jenis pun saya rapi menyembunyikannya. Kamu tau? dengan menulis beban dalam jiwa berangsur ringan dan rahasia itu terbagi dengan aman.
itulah mengapa aku memilih menulis apa saja yang aku rasakan waktu itu.

Sampai pada bangku SMA. aku masih suka menulis dalam catatan harian yang isinya cenderung tumpahan perasaan. Tentang susahnya membaur dan bergaul dengan  teman-teman baru dari berbagai daerah, berbagai budaya dan berbagai watak dan karakter. Tipe pendiam seperti aku cukup merasa berat melalui proses perkenalan dan membaur dengan teman waktu itu.

Ada teman yang berasal dari kota, yang gaya penampilannya terlihat gaul dan kekinian, ada yang pandai berbahasa inggris, ada yang pandai menyanyi serta berani tampil di depan umum. sementara di tengah-tengah mereka aku selalu merasa kecil, ndeso, tidak tau apa-apa, tidak gaul dan sangat minder. Dan lagi- lagi buku dan pena adalah teman terdekat yang aku punya saat itu.

Setiap malam, sebelum tidur selalu saja ada yang aku ceritakan ke dalam bukuku. Ketika perasaan mebuncah-buncah, tidak terasa berlembar-lembar kata-kata terangkai dengan begitu derasnya. Jika hati terasa gembira, banyak gambar dan lirik lagu-lagu yang aku torehkan. Dan sesuai remaja di jamannya. aku sering memetik bait lagu-lagu ngetop waktu itu jika liriknya seirama dengan suasana hati.(bagian ini jadi ingat lagu-lagu dewa 19, So7 dan Peterpen)

Kebiasaan menulis curhatan ini akhirnya mengarah ke sajak-sajak dan puisi. Seperti remaja umumnya ketika dilanda jatuh cinta, setiap manusia begitu mudah menjadi pujangga. Dan itu ada di dalam jiwaku ketika itu. Sungguh, kata-kata dan abjadnya benar-benar menjadi hajat yang harus ditorehkan setiap harinya.

Kadang sajak-sajak dan puisi itu tertulis di sela-sela buku pelajaran. Karna menulis bagiku adalah hajat yang harus segera dituntaskan.  dimana saja dan kapan saja ingin dimuntahkan. hingga ada beberapa teman sekelas yang memuji pilihan kata dan rima ku serta ingin bersajak bersama. ah indahnya bertukar sajak kala itu.

Aku tidak belajar khusus tentang menulis. Ini murni dari kebiasaan menulis catatan harian yang aku jalani mulai dari SMP. Sehingga muncul ide membuat cerita pendek (cerpen). Alhasil cerpen pertamaku dinilai tidak terlalu jelek untuk dinikmati pembacanya. minimal di kalangan teman-temanku sekelas kala itu. hingga cerpen-cerpen terus berkembang sampai sengaja aku bukukan agar tidak tercecer.

Hingga lembaran-lembaran cerpenku aku kumpulkan dan aku jilid. dan mulai laris dipinjam kesana kemari oleh teman-teman sekelas dan kakak kelas di sekolah. hingga sampai sekarang tidak kembali (sedih sekali...)
sehingga jiwa labilku mencuat. menulis cerpen sudah tidak lagi menarik untukku. karna aku merasa karyaku menghilang begitu saja.

Lain halnya berpuisi dan bersajak. aku tetap menorehkannya di sela-sela hariku. tentang cerita-cerita hidupku. tentang kesedihan, tentang kekecewaan, tentang anak-anak dan tentang cinta.
banyak sajak memahat alur perasaanku selama hidupku. dan lagi-lagi aku tak mengikatnya dengan membukukannya.

semua sajak dan puisi banyak tertuang dalam buku harianku. yang kini sengaja aku lenyapkan.
aku malu dengan diriku ketika membukanya waktu itu. aku terlalu rapuh dan banyak meratap. hingga aku putuskan memusnahkannya dan membuat diri lebih kuat dan bangkit.
bahwa tidak semua perasaan itu harus ditumpahkan. bahwa banyak rasa sakit yang harus disimpan dan diredakan. ada kebahagiaan tidak harus diraya-rayakan. lalu saya memilih tidak menulis perasaan apapun setelah saya mempunyai anak.


bersambung
-----------------------
)*sampai disini dulu ya temans.
hari ini aku bertekad mengawali menulis.
Mohon dukungannya yak
prok prok prok....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RECHARGING YOUR SELF

Dewasa ini, tradisi berpelukan banyak sekali dibahas pada postingan-postingan sosial media seperti facebook tweeter, instagram maupun whatsa...