Rabu, 16 September 2020

RECHARGING YOUR SELF


Dewasa ini, tradisi berpelukan banyak sekali dibahas pada postingan-postingan sosial media seperti facebook tweeter, instagram maupun whatsapp. Dipaparkan bahwa tradisi berpelukan yang telanjur dianggap lebay dan terkesan kaku itu mampu memberi energi kerekatan hubungan yang selalu terbarukan. Baik untuk pasangan, anak-anak dan teman. Lalu apakah hanya berpelukan?

Selain berpelukan, kekuatan yang ada dalam diri manusia adalah air mata. Kedua hal ini mampu menyalakan karakter kamanungsan yang semakin kesini semakin menghilang. Dengan berpelukan keberadaan manusia terakui dan berarti. Begitu pula dengan air mata. Mengapa air mata? Ya, selain untuk membasahi bola mata ahgar tak kering, air alami tubuh manusia ini terbukti sebagai reaksi emosional baik emosi positif (menangis bahagia) ataupun emosi negatif (amarah, sakit, terluka) yang keduanya berada dalam alam rasa. Bisa disimpulkan bahwa ungkapan rasa bisa terbahasakan dengan air mata.

Yang ketiga adalah bercerita, berbagi cerita. Dengan berbagi cerita, berbicara dengan sesama. Terbukti mampu membuat diri menjadi lega, lapang dan kosong kembali dari emosi-emosi negatif. Selain menjadi lega, kegiatan bercerita ini mampu memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan ataupun ikatan hubungan menjadi semakin erat. Hati akan udah lapang kembali untuk menghadapi hal-hal baru selanjutnya. 

Dari ketiga hal yang terurai diatas, semuanya lekat dengan jiwa para perempuan. Perempuan mampu melewati hal buruk dalam hidupnya jika ada ketiga hal diatas. Berpelukan, menagis, dan bercerita. Perempuan mampu mengisi daya kekuatan dan semangatnya setelah ia meangis, diberikan pelukan maupun dengan megutarakannya. 

Lalu bagaimanakah dengan laki-laki?

Senin, 20 Mei 2019

SAYAK ANYAR

Sayak Anyar 


Malam ke 15 Ramadhan,

Ku tengok anak-anakku yang sedang asyik memainkan hootwheels-nya di ruang tengah, ruang keluarga yang merangkap sebagai ruang makan dalam kontrakan sederhanaku selepas maghrib ini. 
Aku masih ngisis (mencari angin karena hawa panas) di teras bersama secangkir kopi dan pisang goreng. Udara panas hari ini membuat badanku justru terasa lemas setelah menyantap makanan berbuka sore tadi. 

----

Mataku menerawang, mengingat momen-momen ramadhan seperti ini.
Aku tersenyum, membayangkan diriku yang dulu di tengah-tengah ramadhan seperti ini, saat hari lebaran semakin dekat dan bisa dihitung dengan jari. 
Hampir setiap malam sebelum tidur, aku asyik menghitung datangnya hari lebaran. Belum lagi acara mencoba sayak anyar (baju baru) selalu menjadi agenda rutin tiga hari sebelum lebaran. 
uniknya ini dilakukan bersama-sama  di depan kaca bersama saudara-saudaraku.

Ungkapan-ungkapan bangga bercampur riang gembira menceritakan sayak anyar selalu menjadi buah bibir dimanapun teman-temanku berkumpul. 
dan topik satu itu selalu menjadi primadona di tengah suasana TPQ tempatku mengaji. 

Aku ingat, ketika itu aku sama sekali belum mempunyai baju baru. 
Mak e dan Pak e masih sibuk derep (;panen padi) di sepanjang harinya. 
Meskipun menurut obrolan mereka yang berhasil aku rekam di dapur ketika itu,  hasil panen kala itu sedang tidak baik karena hama. 
Aku tak peduli itu. Yang ku inginkan hanya sandal dan sayak anyar untuk lebaran yang bisa kuceritakan kepada teman-temanku ketika mengaji di masjid nanti, dan membuatku merasa "sama" dengan mereka. 

Sore itu, selepas Maghrib, Mak'e mendekatiku yang baru selesai nderes (;membaca alqur'an) di sholatan seperti biasanya. 

"riyoyo iki nggak usah tumbas sayak anyar yo nduk. Mak e durung iso numbasne. Duit e panen gawe daftar sekolah embakmu modok".
(lebaran tahun ini tidak usah beli baju baru ya nak, Ibu belum bosa membelikannya. Uang hasil panen ini dipakai untuk mendaftarkan sekolah kakakmu  di pondok).

Aku mbesengut marah dan sangat benci keadaan itu. Tanpa berkata apa-apa aku berlari menuju kamar dan menangis. Rasanya hancur lebur harapan bisa mengimbangi dan bercerita kepada teman-temanku tentang sayak anyarku.

----

Ah...., betapa perilakuku saat itu sangat melukai hati Mak'e.... meski tidak ada kata berontak ataupun menuntut, jelas sekali reaksiku ketika itu membuat hati Mak'e tergores. 

Mataku basah.

Sekali lagi ku tengok anak-anakku di ruang tengah. Celotehnya memainkan mobil-mobilannya membuatku banyak bersyukur.. tidak ada tuntutan macam-macam, tidak ada rengekan beli baju baru, tidak ada rasa ingin seperti teman-temannya yang kadang menunjukkan barang-barang baru. 

Sekali lagi mataku basah.

----

Hingga seminggu sebelum lebaran, selepas maghrib, Bulek Narmi tetangga depan rumah yang baru saja datang dari Saudi datang membawa oleh-oleh berupa kain. Aku ingat kain itu berwarna kuning bercorak bunga-bunga. 

Mak'e membungkam lama setelah menerima pemberian Bulek Narmi, didekapnya kain dalam kresek hitam itu dengan mata mengkilat. Mulutnya tak henti-henti berucap hamdalah meski lirih sekali. 

Akhirnya dengan semangatnya yang membara, demi melihat mata kami, anak-anaknya berbinar di hari lebaran, demi menjaga perasaan kami anak-anaknya di tengah-tengah riuhnya obrolan sayak anyar. Mak'e rela dondom (;mejahit dengan tangan) setiap malam untuk membuatkan sayak anyarku dan kedua saudara perempuanku. 

Hingga di hari dimana suara takbir menggema di masjid dan langgar-langgar d, kami anak-anak Mak'e telah sempurna memakai sayak anyar hasil dondoman-nya. 

----

Aku tergugu.

Betapa Mak'e sangat menjaga perasaan kami waktu itu. 
Betapa Mak'e sangat ingin membahagiakan kami dalam keterbatasannya ketika itu.
Mak'e maafkan aku



Nganjuk, 19 Mei 2019




Jumat, 26 April 2019

AKU DAN KATA-KATA

Sebenarnya waktu aku duduk di bangku SMP sudah suka sekali menulis. Bukan artikel ataupun berita apalagi puisi, hanya menulis apa yang sedang aku rasakan saja. Semacam buku diary gitu.
Bahkan aku ingat waktu itu punya kode-kode kalimat agar catatan harianku tidak mudah dibaca orang lain. Aselinya takut dibaca Bapak dan Emak. wkwkwkwk

Aku termasuk remaja yang tidak bisa terlalu dekat sama teman dan apalagi bisa cerita apapun dan tentang apapun sama teman-teman. Ya.. cenderung pendiam dan penyembuyi perasaan (cieh..)
Mulai dari dunia sekolah dan cerita-cerita remaja yang mulai mengenal rasa suka lawan jenis pun saya rapi menyembunyikannya. Kamu tau? dengan menulis beban dalam jiwa berangsur ringan dan rahasia itu terbagi dengan aman.
itulah mengapa aku memilih menulis apa saja yang aku rasakan waktu itu.

Sampai pada bangku SMA. aku masih suka menulis dalam catatan harian yang isinya cenderung tumpahan perasaan. Tentang susahnya membaur dan bergaul dengan  teman-teman baru dari berbagai daerah, berbagai budaya dan berbagai watak dan karakter. Tipe pendiam seperti aku cukup merasa berat melalui proses perkenalan dan membaur dengan teman waktu itu.

Ada teman yang berasal dari kota, yang gaya penampilannya terlihat gaul dan kekinian, ada yang pandai berbahasa inggris, ada yang pandai menyanyi serta berani tampil di depan umum. sementara di tengah-tengah mereka aku selalu merasa kecil, ndeso, tidak tau apa-apa, tidak gaul dan sangat minder. Dan lagi- lagi buku dan pena adalah teman terdekat yang aku punya saat itu.

Setiap malam, sebelum tidur selalu saja ada yang aku ceritakan ke dalam bukuku. Ketika perasaan mebuncah-buncah, tidak terasa berlembar-lembar kata-kata terangkai dengan begitu derasnya. Jika hati terasa gembira, banyak gambar dan lirik lagu-lagu yang aku torehkan. Dan sesuai remaja di jamannya. aku sering memetik bait lagu-lagu ngetop waktu itu jika liriknya seirama dengan suasana hati.(bagian ini jadi ingat lagu-lagu dewa 19, So7 dan Peterpen)

Kebiasaan menulis curhatan ini akhirnya mengarah ke sajak-sajak dan puisi. Seperti remaja umumnya ketika dilanda jatuh cinta, setiap manusia begitu mudah menjadi pujangga. Dan itu ada di dalam jiwaku ketika itu. Sungguh, kata-kata dan abjadnya benar-benar menjadi hajat yang harus ditorehkan setiap harinya.

Kadang sajak-sajak dan puisi itu tertulis di sela-sela buku pelajaran. Karna menulis bagiku adalah hajat yang harus segera dituntaskan.  dimana saja dan kapan saja ingin dimuntahkan. hingga ada beberapa teman sekelas yang memuji pilihan kata dan rima ku serta ingin bersajak bersama. ah indahnya bertukar sajak kala itu.

Aku tidak belajar khusus tentang menulis. Ini murni dari kebiasaan menulis catatan harian yang aku jalani mulai dari SMP. Sehingga muncul ide membuat cerita pendek (cerpen). Alhasil cerpen pertamaku dinilai tidak terlalu jelek untuk dinikmati pembacanya. minimal di kalangan teman-temanku sekelas kala itu. hingga cerpen-cerpen terus berkembang sampai sengaja aku bukukan agar tidak tercecer.

Hingga lembaran-lembaran cerpenku aku kumpulkan dan aku jilid. dan mulai laris dipinjam kesana kemari oleh teman-teman sekelas dan kakak kelas di sekolah. hingga sampai sekarang tidak kembali (sedih sekali...)
sehingga jiwa labilku mencuat. menulis cerpen sudah tidak lagi menarik untukku. karna aku merasa karyaku menghilang begitu saja.

Lain halnya berpuisi dan bersajak. aku tetap menorehkannya di sela-sela hariku. tentang cerita-cerita hidupku. tentang kesedihan, tentang kekecewaan, tentang anak-anak dan tentang cinta.
banyak sajak memahat alur perasaanku selama hidupku. dan lagi-lagi aku tak mengikatnya dengan membukukannya.

semua sajak dan puisi banyak tertuang dalam buku harianku. yang kini sengaja aku lenyapkan.
aku malu dengan diriku ketika membukanya waktu itu. aku terlalu rapuh dan banyak meratap. hingga aku putuskan memusnahkannya dan membuat diri lebih kuat dan bangkit.
bahwa tidak semua perasaan itu harus ditumpahkan. bahwa banyak rasa sakit yang harus disimpan dan diredakan. ada kebahagiaan tidak harus diraya-rayakan. lalu saya memilih tidak menulis perasaan apapun setelah saya mempunyai anak.


bersambung
-----------------------
)*sampai disini dulu ya temans.
hari ini aku bertekad mengawali menulis.
Mohon dukungannya yak
prok prok prok....


RECHARGING YOUR SELF

Dewasa ini, tradisi berpelukan banyak sekali dibahas pada postingan-postingan sosial media seperti facebook tweeter, instagram maupun whatsa...